
Jakarta, 8 Desember 2025 – SMA Sinar Dharma sukses menyelenggarakan kegiatan pelatihan yang sangat bermakna dan berkesadaran dengan tema “Menguatkan Peran dan Fungsi Guru SMA Sinar Dharma.” Kegiatan inspiratif ini menghadirkan narasumber istimewa, Ibu Dr. Itje Chodidjah, M.A., praktisi pendidikan yang selalu membersamai para guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik. Acara berlangsung pada Senin, 8 Desember 2025, mulai pukul 13.50 hingga 15.40 WIB, bertempat di ruang serba guna lantai 2 SMA Sinar Dharma. Kegiatan ini diikuti oleh 18 pendidik dan 1 tendik SMA Sinar Dharma.
Kegiatan diawali dengan sambutan resmi yang penuh semangat dari Kepala SMA Sinar Dharma, Bapak Dr. Sisean Baga. Dipandu oleh pewara Ibu Syarifah Aini, S.Pd., Gr., Bapak Sisean menyampaikan apresiasi mendalam kepada para guru yang selama ini telah berupaya melaksanakan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) dengan sebaik-baiknya.
Beliau menyoroti lima tupoksi utama guru berdasarkan Permendikdasmen Nomor 11 Tahun 2025, yang meliputi: merencanakan, melaksanakan, melakukan penilaian, membimbing dan melatih, serta melaksanakan tugas tambahan. Namun, Bapak Sisean Baga menegaskan bahwa tupoksi ini harus senantiasa diperkuat melalui pelatihan yang berkelanjutan. Di tengah kondisi saat ini yang penuh ketidakpastian, guru dituntut untuk tetap sabar, semangat, dan hadir sepenuhnya untuk membimbing para murid agar siap menghadapi masa depan.
Menyelami Tantangan dan Karakteristik Murid SMA
Pada sesi inti, Ibu Dr. Itje Chodidjah, M.A., mengajak seluruh guru untuk merefleksikan bahwa setiap jenjang pendidikan memiliki tantangan yang unik, termasuk bagi guru di tingkat SMA. Sesi ini berfokus pada penyadaran peran guru terhadap karakteristik spesifik murid Sekolah Menengah Atas.
Para guru diajak berdiskusi secara mendalam mengenai perbedaan karakteristik murid SD, SMP, dan SMA. Diskusi ini mengarahkan pada pemahaman tentang persiapan apa saja yang harus disiapkan oleh guru, baik dari segi peran maupun fungsinya, untuk menghadapi karakter murid SMA yang kian kompleks.
Refleksi Budaya Melalui Metafora dan Analogi
Sesi semakin menarik ketika Ibu Itje meminta guru-guru untuk berkolaborasi dan berkreasi. Guru dibagi menjadi enam kelompok dan diminta membuat gambar metafora atau analogi yang menggambarkan pencampuran culture yang dialami oleh murid dan telah tertanam dalam diri mereka. Pencampuran culture ini menjadi salah satu tantangan terbesar bagi guru dalam menjalankan peran dan fungsi sebagai seorang pendidik.
Setiap kelompok menghasilkan gambaran yang berbeda, namun tetap sarat makna, mencerminkan keragaman tantangan yang guru temui sehari-hari. Kegiatan berlangsung dengan suasana yang menggembirakan, bermakna, dan penuh kesadaran diri. Akhir dari kegiatan ini yaitu presentasi gambar metafora hasil diskusi kelompok dan proses refelksi dalam memaknai kegiatan tersebut.
Menatap Masa Depan yang Tidak Menentu
Secara keseluruhan, kegiatan pelatihan ini diharapkan menjadi bahan refleksi yang mendalam bagi seluruh tenaga pendidik di SMA Sinar Dharma. Pengembangan profesi sebagai guru menuntut kesadaran bahwa mereka memiliki tanggung jawab besar untuk mempersiapkan murid agar siap hidup dan beradaptasi di lingkungan yang senantiasa tak menentu. Guru SMA Sinar Dharma kembali diingatkan akan esensi peran mereka sebagai pembimbing yang tak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk karakter dan kesiapan mental murid untuk masa depan.
SIMA: Sukses Dengan Integritas, Motivasi, dan Adaptabilitas

Sambutan Kepala SMA Sinar Dharma

Kegiatan presentasi hasil gambar analogi/metafora terkait peran dan fungsi guru dalam menghadapi karakteristik murid SMA

Penguatan dari narasumber pelatihan

Penutup oleh pewara
